Rabu, 19 November 2014

Gadis Berambut Pendek (Revised)

Oleh: Agung Setiawan




SUATU sore yang mendung di akhir desember, di pinggir jalan di Bundaran Pancasila, sebuah area ikon di Pangkalan Bun, tanpa sengaja aku melihatnya.

Sebenarnya, aku tak ingin melihatnya lagi. Telah kuputuskan sejak lama dan kusampaikan padanya bahwa aku hendak melupakannya dan tak ingin melihatnya lagi. Dia merespon dengan mengangguk pelan. Aku tak pernah lupa gerak halus dari anggukan itu, bagaikan gerak seekor kupu-kupu yang berusaha merangsek keluar dari kepompongnya.

Bagaimana pun juga, aku telah melihatnya.  Pokoknya, aku sudah melihatnya. Mau tak mau aku harus menghadapinya. Tak ada pilihan lain. Seandainya pun ada pilihan untuk menghindarinya, hantu-hantu penyesalan siap menampakkan diri malam ini di atas lemariku, atau di kamar mandiku. Lagipula, kalau pun aku menemuinya sekarang, tentu saja tak akan lama—lebih tepatnya, tak mungkin lama. Segera aku menghampirinya ketika dirinya sedang memandangi kendaraan yang lewat.

“Aku sudah melihatmu di sini, jadi aku menghampirimu.”

Dia menatap mataku dan menyunggingkan senyum manis, lantas mempersilakan aku duduk di kursi plastik di sampingnya. Matanya bercahaya saat kami bertatapan, seolah baru saja dilepas dari colokan listrik. Tak ada perubahan berarti pada dirinya. Rambutnya tetap pendek dan hanya semakin gelap. Pipi dan telinganya masih putih bersih. Hidung mungil itu tak pernah terlihat menyolok karena menahan kacamata besarnya. Dan lehernya yang jenjang pertanda bahwa ia gadis yang kuat.

Dadanya tak terlalu besar. Sepasang lengan dan kakinya bagaikan baru saja dipahat dengan teliti oleh pemahat Bali, menampakkan lekuk-lekuk yang halus tanpa goresan atau bekas luka, ranum bagai bulir-bulir padi, dan kurasa itulah organ tubuhnya yang paling sempurna.

Dia bertanya, “Apa kabar, kak? Baru pulang dari Banjarmasin?”

“Iya. Kemarin,” jawabku sedikit gugup.

“Liburan? Berapa hari?”

“Cuma dua minggu.”

Kutambahkan, “Sama siapa di sini?”


“Itu sama teman-temanku.” Dia menunjuk dengan jempolnya ke arah belakang.

“Oh.” Aku menoleh ke belakang. Tak salah lagi, mereka juga dulu adalah teman-temanku. Aku bisa menebak apa yang dibisikan oleh bibir-bibir mereka dan lirikan mata yang mengarah ke punggungku dan punggung gadis di sampingku, seolah-olah ada jarum-jarum halus menyentuh kulit punggungku. Dulu kami berteman akrab, tapi karena aku dan gadis di sampingku memutuskan untuk tak ingin bertemu lagi, aku dan mereka juga melakukan hal serupa. Bagiku, ini adalah sesuatu yang biasa saja.

Pun basa-basi diantara aku dan gadis di sampingku terhenti karena suatu hal yang biasa. Kami tak mungkin dan tak boleh membahas hubungan kami di masa lalu. Barangkali masing-masing dari kami sudah mendewasa dalam kehidupan kami setelah kami tak bertemu. Biar bagaimanapun, aku tak berhak untuk menuntut perbincangan kami melebihi yang sewajarnya. Dan pada akhirnya, langit pun berubah gelap.

*

BERKALI-kali aku melewati ruas-ruas jalan yang dulu pernah kulalui di kota ini. Aku terus melewati Bundaran Pancasila dengan deretan tempat kawula muda bercengkrama, sekolah-sekolah yang berdiri megah dengan asa cinta di dalamnya, Istana Kuning yang megah simbol masa lalu, dan seluruh jalan yang membentang dengan jejak-jejak kenangannya masing-masing. Tiba-tiba waktu seolah bersimpati kepadaku. Aku tak tahu pukul berapa sekarang, hari apa sekarang, dan tahun berapa sekarang.

Aku melewati sebuah Cafe di jalan Diponegoro. Cafe kecil yang memiliki halaman parkir luas. Kuputuskan untuk memutarbalik dan mengunjungi Cafe itu. Kupesan Cappucino dan roti bakar cokelat. Sambil menunggu pesanan, aku memerhatikan sekeliling. Ada sekitar tiga meja terisi. Rata-rata anak-anak muda.

Di dinding, ada tiga lukisan abstrak. Sebenarnya aku tak terlalu suka jenis lukisan itu. Namun, tak ada hal lain yang menarik selain memandangi dengan penuh perasaan pada ketiga lukisan bersaudara itu. Mataku silih berganti menafsiri lukisan tersebut. Aku tertarik pada satu lukisan, mirip serakan benda-benda yang terburai dari suatu titik di sudut atas, mengalir secara melingkar menuju titik tengah yang menghilang begitu saja. Semakin menuju ke tengah, semakin pudar warnanya, namun serakan benda-bendanya bertambah banyak. Biar bagaimana pun, lukisan itu tak terlalu jelek terutama perpaduan warna. Setidaknya selera pembeli lukisan itu cukup bagus.

“Halo!” sekonyong-konyong seruan itu mengagetkanku.

Sungguh, aku bertemu dengannya lagi.

Dia memakai blazzer hitam merek Kezia yang nampak baru. Kali ini rambutnya tertata lebih rapi membelah tepat di atas mata kirinya dan ada lip gloss tipis terlukis di bibirnya yang juga tipis. Bagaimanapun, aku tak mungkin bisa berkata secara langsung di hadapannya, dengan terang-terangan bahwa: “Kamu cantik.”

“Makasih,” katanya. Dia tersenyum.

Terkadang, mulut lebih jujur dan lebih lugas daripada hati.

“Kakak sendiri?

“Seperti yang kamu lihat.”

“Oh,” angguknya.

“Aku besok kembali ke Banjarmasin.”

Air mukanya berubah, “Loh, katanya dua minggu. Baru kemarin lusa kita ketemu, artinya baru empat hari kakak di sini.”

“Empat hari?” tanyaku. “Aku sudah dua minggu di sini.”

“Maksud kakak? Kakak bohong kalau sudah di sini selama dua minggu?”

Kami sama-sama bingung. Hal ini membuat suasana menjadi kaku dan serba membingungkan. Sesaat pesananku datang. Aku bertanya lagi.

“Kalau kuingat-ingat, terakhir kita ketemu di Bundaran Pancasila itu 12 hari yang lalu.”

“Hah?”

Aku jadi merasa bersalah, ibarat seorang penipu amatir. Tapi yang kukatakan adalah yang sebenarnya. Aku memang sudah hampir dua minggu di kota ini. Hal itu adalah fakta. Seandainya menghitung kalender pun, pastilah kata-kataku terbukti benar. Ada banyak bukti bahwa aku telah di sini selama dua minggu lamanya. Namun, dia mengatakan bahwa aku baru empat hari di kota ini. Siapa yang benar? Ada apa dengan waktu?

“Hmm, daripada kita ngomongin waktu, lebih baik kita ngobrol di sini,” tawarku.

“Kayaknya nggak bisa, kak. Teman-temanku nunggu di sana. Kami mau rapat OSIS. Tapi ada yang mau aku katakan sebelumnya. Boleh?”

“Boleh.”

“Kita dulu pernah berjanji untuk nggak bertemu lagi, kan?”

“Benar.”

“Kenapa kakak menemuiku empat hari yang lalu? Atau 12 belas hari yang lalu menurut kakak?”

Aku mencoba mencari-cari alasan. Aku memaksa otakku berputar cepat. Namun tak ada jawaban yang tepat dan meyakinkan. Apa alasan yang bisa kukatakan untuk membela diri bahwa aku melanggar janji? Rasa-rasanya, tak ada yang bisa dibela untuk pelanggar janji.

“Mungkin takdir, ya,” ujarku

Dia tertawa kecil. Aku pun ikut tertawa. Setelah itu tak banyak yang kami bicarakan, sekadar tentang kuliahku dan sekolahnya. Pertemuan yang biasa. Tak istimewa seperti dulu. Seandainya waktu yang menjadikan seperti ini, aku tak protes. Tapi waktu itu fana, hanya kita yang abadi, persis yang diucapkan oleh Sapardi Djoko Damono 36 tahun yang lalu.

*



Aku menatap rintik hujan yang mengetuk-ngetuk lembut kaca jendela bus. Kaca itu memantulkan wajahku yang nampak lelah karena dingin, juga memikirkannya. Kurapikan rambut panjangku dan mengaitkan kancing jaket Hello Kitty-ku. Pangkalan Bun telah kutinggalkan. Lebih baik aku tidur saja, kataku dalam hati.

Cerpen adalah hak milik penulis, dilarang untuk mengcopas tanpa izin penulis.

sumber ilustrasii: th02.deviantart.net/fs41/200H/f/2009/021/0/f/Short_Haired_girl_by_cheddiegun.jpg

4 komentar:

  1. sepertinya kenal gadis berambut pendek berkacamata ini. ^^

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Rambut pendek kan bukan cuma dia, de

      Hapus