Selasa, 23 Desember 2014

Dia Yang Menjelma Sayap Biru Kupu-Kupu

TANTANGAN NULIS BULANAN DARI KARYA PENA AKSARA (KAPAS)
TEMA: KAMPUS


JUDUL: DIA YANG MENJELMA SAYAP BIRU KUPU-KUPU
PENULIS: AGUNG SETIAWAN

http://www.winona.edu/physics/Images/Silhouette.jpg

            Kupu-kupu besayap biru terbang rendah di atas kelopak kembang Hibiscus rosa-sinensis di taman kampus. Waktu itu, sebuah pertanyaan hadir dibenakku. Kehadirannya bagai titik cahaya fajar, menimbulkan asa yang lama dinanti sepanjang pekat malam. Bukan pertanyaan seperti biasa. Dan aku, entah bagaimana, tak bisa mengucapkan pertanyaan itu lewat bibir. Itu karena setiap aku ingin menerjemahkan pertanyaan itu, selalu saja hanya sampai pada tenggorokan, seolah dicekik oleh ketidakrelaan.

            Aroma hujan bulan desember hadir bersamaan dengan awan kelabu di atas langit Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Aromanya yang khas seperti mencampur dedaunan taman dan mengaduknya dengan angin musim hujan. Kau dapat merasakan itu, dan aku yakin benar tentang itu. Lalu suhu merendahkan dirinya perlahan-lahan dan menebarkan dingin yang memeluk mesra kulitmu, serta menegakkan bulu tengkukmu atau bulu hidungmu yang sedang menghirup wangi cuaca yang berubah. Aku hanyut dalam pertanyaan tadi.

            Belum tuntas aku merenung—barangkali melamun—aku dikejutkan oleh kehadiran Jelita. Sosoknya mengubah suasana. Transisi cuaca seakan enggan mempercepat prosesnya, seolah menunggu.

            “Bu Laras nyariin kamu tuh,” katanya.

            “Oh, apa kata beliau, Ta?”

Kesederhanaan Kisah


Oleh: AGUNG SETIAWAN

Judul: Dengarlah Nyanyian Angin
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: KPG
Terbit: Mei 2013, Cetakan Kedua
Jumlah Halaman: 119
Kategori: Novel Fiksi Terjemahan


            “Tidak ada kalimat sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna.”

            Sebuah kalimat pembuka yang manis di novel ini. Sebagaimana karya sastra berupa novel, kalimat pembuka merupakan daya magnet yang akan membawa pembaca masuk lebih dalam lagi ke untaian kata-kata hingga ujung akhir novel.

            Haruki Murakami menulis Dengarlah Nyanyian Angin – Novel pertamanya, diterbitkan tahun 1979 dan memenangi Gunzo Literary Award– dengan baik. Ia menulis secara sederhana dan mudah dipahami. Penuh isyarat makna dan kata-kata ajaib. Pembaca akan menemukan sekelumit kisah pemuda-pemuda Jepang di tahun 1960-1970an.

Sabtu, 20 Desember 2014

Mengapa Murakami?




The most difficult thing in life is to know yourself – Thales of Miletus (624 – 546 B.C)

Sejak saya tertarik pada dunia aksara dan cerita, saya sering diam-diam bertanya pada diri sendiri: Wahai Agung, dari siapakah kau belajar untuk menjadi penulis? Kurang lebih seperti itu pertanyaan-pertanyaan bermunculan dari dalam diri.

Seorang anak–terutama balita–sebagian besar pasti pernah mendengar cerita dari ibu.  Setiap malam sebelum tidur atau sebelum waktu tidur siang. Meringkuk dalam pelukan ibu sambil dikipasi dengan sehelai kertas. Lalu bagaikan acara yang ditunggu-tunggu, sang Ibu memulai ceritanya. Terkadang bercerita langsung, terkadang meminta kita untuk diceritakan kisah apa. Kalau kita meminta diceritakan sebuah kisah yang belum pernah ada, maka Ibu dengan senang hati mengarang sendiri kisah itu. Kita merasa senang, merasa bahagia. Kita akan memimpikan kisah itu dengan Happy Ending. Begitulah bagi yang beruntung memiliki masa yang indah, diceritakan oleh Ibu.