Selasa, 23 Desember 2014

Kesederhanaan Kisah


Oleh: AGUNG SETIAWAN

Judul: Dengarlah Nyanyian Angin
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: KPG
Terbit: Mei 2013, Cetakan Kedua
Jumlah Halaman: 119
Kategori: Novel Fiksi Terjemahan


            “Tidak ada kalimat sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna.”

            Sebuah kalimat pembuka yang manis di novel ini. Sebagaimana karya sastra berupa novel, kalimat pembuka merupakan daya magnet yang akan membawa pembaca masuk lebih dalam lagi ke untaian kata-kata hingga ujung akhir novel.

            Haruki Murakami menulis Dengarlah Nyanyian Angin – Novel pertamanya, diterbitkan tahun 1979 dan memenangi Gunzo Literary Award– dengan baik. Ia menulis secara sederhana dan mudah dipahami. Penuh isyarat makna dan kata-kata ajaib. Pembaca akan menemukan sekelumit kisah pemuda-pemuda Jepang di tahun 1960-1970an.

            Tokoh aku (21 tahun) sebagai tokoh utama di novel ini menyiratkan bahwa ia adalah seorang yang baik hati. Ia memiliki teman dekat bernama Nezumi – teman yang dikenal tanpa sengaja. Sayangnya, Nezumi membenci sikap orang-orang kaya meski pun ia sendiri adalah anak orang kaya. Baginya “Mendingan semua orang kaya ke laut aja deh!” (hal 6). Lalu Nezumi menjelaskan bahwa mereka (orang-orang kaya) tidak pernah memikirkan hal yang penting (hal. 9). Dan itu direspon oleh tokoh Aku dengan sikap biasa saja, seolah-olah Nezumi berpikiran lumrah.

            Dipertengahan novel, setelah pertemuan tanpa sengaja tokoh Aku dan seorang perempuan seusianya yang berjari kiri empat, tokoh Aku mulai menanamkan rasa pada perempuan itu. Ada beberapa adegan di novel ini ditujukan untuk pembaca dewasa, tetapi tidak vulgar. Selain itu juga menceritakan rokok dan minuman keras, sebagai simbol kehidupan anak-anak muda jepang kala itu. Murakami menyulap hal-hal yang tabu menjadi wajar untuk dikemukakan. Itu tak lepas dari karakter tulisan Murakami yang menonjolkan kejujuran dan apa adanya.

            Relasi antara Aku dan Nezumi ibarat koran dan kopi di suatu pagi. Mereka melengkapi seakan-akan pikiran mereka sama atau tanpa ada salah satu dari mereka, maka tak akan terasa nikmat. Dan antara Aku dan gadis berjari empat ada hubungan dekat. Hal itu diungkapkan di bagian akhir novel oleh gadis itu karena ia merasa nyaman berada di dekat Aku.

            Gaya bahasa penuturan novel yang ringan menambah cita rasa kisah yang mengalir seperti sungai di dataran tinggi Jepang. Tenang, berirama, dan penuh unsur-unsur kemanusiaan yang dalam. Murakami memanglah penulis novel berciri khas seperti itu. Tak pelak di novelnya yang pertama ini ia dirasa seperti keluar dari masa lalunya yang penuh misteri dan menemukan gairah dari kegiatan menulis.

            Selebihnya, kejutan-kejutan kecil muncul di bagian lain novel. Tokoh aku yang begitu terobsesi pada penulis Amerika yang mati bunuh diri, Derek Heartfield. Atau siapa gadis yang menitipkan salam lewat radio kota kepada Aku, dan beberapa yang tak ditemukan diakhir kisah. Sayangnya, itu juga didapati di karya-karyanya yang lain. Sebuah tanya yang melayang, apakah Murakami dengan sengaja mengolahnya.


            Saya menyukai kutipan ini. “Apabila kau tidak bisa mengekspresikan sesuatu, berarti sesuatu itu tidak pernah ada. (hal. 20). []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar