Sabtu, 20 Desember 2014

Mengapa Murakami?




The most difficult thing in life is to know yourself – Thales of Miletus (624 – 546 B.C)

Sejak saya tertarik pada dunia aksara dan cerita, saya sering diam-diam bertanya pada diri sendiri: Wahai Agung, dari siapakah kau belajar untuk menjadi penulis? Kurang lebih seperti itu pertanyaan-pertanyaan bermunculan dari dalam diri.

Seorang anak–terutama balita–sebagian besar pasti pernah mendengar cerita dari ibu.  Setiap malam sebelum tidur atau sebelum waktu tidur siang. Meringkuk dalam pelukan ibu sambil dikipasi dengan sehelai kertas. Lalu bagaikan acara yang ditunggu-tunggu, sang Ibu memulai ceritanya. Terkadang bercerita langsung, terkadang meminta kita untuk diceritakan kisah apa. Kalau kita meminta diceritakan sebuah kisah yang belum pernah ada, maka Ibu dengan senang hati mengarang sendiri kisah itu. Kita merasa senang, merasa bahagia. Kita akan memimpikan kisah itu dengan Happy Ending. Begitulah bagi yang beruntung memiliki masa yang indah, diceritakan oleh Ibu.

Saya pernah menulis bahwa saya memang terinspirasi oleh Ibu saya tentang bagaimana beliau bercerita. Entah bagaimana prosesnya, barangkali secara alami, saya menjadi amat sangat menyukai cerita. Lantas menyukai buku. Sepertinya, hal ini juga berlaku untuk orang lain. Bagaikan terprogram secara otomatis urutan-urutan itu. Bagaimana pun, saya menyukai cerita.

Saya tahu bahwa seluruh manusia (yang waras) menyukai cerita. Saya meyakini ini karena sejak manusia ada hingga kini, kisah-kisah selalu menemani manusia hidup, seolah-olah cerita adalah bagian dari kehidupan manusia. Mitos, Legenda, Asal-usul, hingga karya sastra adiluhung (Masterpiece) adalah cerita itu sendiri. Di dalamnya, ada banyak pesan, pelajaran hidup, dan hikmah yang bisa diambil oleh pembaca dan pendengar. Kitab suci pun memiliki ceritanya masing-masing. Maka, cerita atau kisah adalah kehidupan.

Adapun di era modern dan hingga post-modern ini, cerita atau kisah sudah berevolusi menjadi sesuatu yang begitu menarik. Film, video youtube, dan berbagai jenis format audio visual yang dibagikan lewat sosial media sudah menjadi sesuatu yang lazim. Terlepas dari suka atau tidak suka pada suatu cerita atau kisah tertentu, pada dasarnya manusia tertarik pada cerita atau kisah.

Inspirasi

Kembali lagi pada pertanyaan dari judul di atas, mengapa murakami? (Haruki) Murakami adalah seorang penulis dari Jepang. Dia pada mulanya kesulitan untuk menulis, betapa sulitnya mencari kata-kata pertama untuk dituliskan, katanya suatu hari. Entah bagaimana kejadiannya, ia yang adalah seorang pengusaha alat musik Jazz, mengubah haluan menjadi seorang penulis. Pernah ia mengatakan pada suatu ketika, saat menonton pertandingan baseball, tiba-tiba ia menyadari bahwa ia bisa menulis novel. Dan setelah pertandingan berakhir, segera Murakami pulang ke rumah dan mengambil alat tulis. Ia mulai menulis di meja makan di dapur, dan rutin melakukan itu sampai berbulan-bulan hingga novel pertamanya terbit. Keajaiban macam apa yang dianugerahkan padanya?

Aku percaya pada keajaiban sama seperti kepercayaan Ibuku yang percaya pada kekuatan cerita untuk mengantarkanku tidur. Dan kini aku pun percaya bahwa Murakami adalah sosok nyata yang mengantarkanku—dengan tangannya—menuju sebuah pintu yang terdapat satu kalimat berbunyi: Selamat Datang di Lembah Hijau Penulis di Negeri Buku. Tak salah lagi, dialah Murakami, seorang Kakek yang menemukan apa yang dicari-carinya dulu, dan baru menemukannya pada usia 40 tahun.

Aku bukan hendak men-Dewa-kan Murakami. Aku juga tidak 100% mengimani apa yang dia imani sebagai penulis. Dia bahkan tak mengenaliku—tentu saja.

Aku hanya menyukainya secara sederhana. Kejujurannya sebagai penulis, keberaniannya untuk menulis meski usia sudah tidak muda, dan konsistensinya untuk tetap berlari, dalam arti yang sebenarnya, setiap sore, serta menghindari rokok. Katanya, untuk apa menjadi penulis kalau kesehatan diri sendiri pun diabaikan. Ia berpikiran jauh ke depan.

Perkenalanku dengan karyanya terjadi ketika aku memutuskan untuk membeli Norwegian Wood di Gramedia Veteran. Aku tidak tahu mengapa aku membeli itu. Aku tidak mengenal siapa Murakami. Sedikit pun tidak ada alasan aku harus membeli novel itu. Lagi pula sampul bukunya aneh, barangkali novel dewasa. Tapi novel itu diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Itu satu-satunya alasan buku itu layak dibeli. Biar bagaimana pun, akhirnya novel itu aku bawa pulang juga. Begitulah hari di mana aku menemukan apa yang kucari-cari selama ini. Semua orang juga pasti memiliki hari yang indah seperti itu.

Alasan Terakhir

Semuanya memiliki alasan, tapi tidak dengan cinta. Aku mengatakan itu dengan sadar sesadar-sadarnya. Kita bisa jatuh cinta, kita bisa jatuh cinta lantas meminta untuk dibantu berdiri oleh orang yang menjadi alasan kita jatuh cinta, dan kita bisa jatuh cinta lantas “bunuh diri”. Semuanya jatuh cinta dengan dampak berlainan. Murakami mengajariku untuk membiarkan cinta seperti cinta adanya. Itu bukan berarti hakikat cinta yang diajarkan oleh manusia-manusia suci. Bukan itu. Level murakami tentu saja lebih rendah. Yang menjadi fokus perhatian Murakami adalah cinta antar makhluk. Bukankah sudah banyak penulis dalam bidang tersebut? Tentu saja. Namun perbedaan tetaplah ada. Barangkali para ahli bahasa dan pengamat sastra akan lebih mudah menemukan dan menjelaskannya pada kita. Di tulisan ini, aku pribadi menangkap perbedaan itu dengan sukacita. Pembaca akan menemukannya dengan membaca karya-karyanya. Ada kejujuran dan kesederhanaan sekaligus apa adanya. Sedikit sukacita, lebih banyak dukacita. Tetapi masih dalam koridor cinta. Pergulatan batin dan independensi tokoh-tokohnya dalam berpikir dan bertindak. Potret-potret itu akan kita dapati dalam dunia nyata yang lebih kompleks ini. Dengan begitu, pembaca akan memperoleh benang merah yang memiliki multi pesan. Meski ada tokoh-tokohnya yang memandang hidup dengan pesimis, tentu Murakami mengharapkan pembaca dapat memetik sesuatu di balik sesuatu yang diciptakan olehnya.

Demikianlah sedikit alasan pribadiku mengapa memilih Murakami? Selanjutnya tergantung masing-masing dari kita untuk memilih siapa yang menjadi “pendamping” untuk kita menulis. Kenalilah dirimu sendiri meski sulit, seperti dikatakan oleh Thales.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar