Selasa, 23 Desember 2014

Dia Yang Menjelma Sayap Biru Kupu-Kupu

TANTANGAN NULIS BULANAN DARI KARYA PENA AKSARA (KAPAS)
TEMA: KAMPUS


JUDUL: DIA YANG MENJELMA SAYAP BIRU KUPU-KUPU
PENULIS: AGUNG SETIAWAN

http://www.winona.edu/physics/Images/Silhouette.jpg

            Kupu-kupu besayap biru terbang rendah di atas kelopak kembang Hibiscus rosa-sinensis di taman kampus. Waktu itu, sebuah pertanyaan hadir dibenakku. Kehadirannya bagai titik cahaya fajar, menimbulkan asa yang lama dinanti sepanjang pekat malam. Bukan pertanyaan seperti biasa. Dan aku, entah bagaimana, tak bisa mengucapkan pertanyaan itu lewat bibir. Itu karena setiap aku ingin menerjemahkan pertanyaan itu, selalu saja hanya sampai pada tenggorokan, seolah dicekik oleh ketidakrelaan.

            Aroma hujan bulan desember hadir bersamaan dengan awan kelabu di atas langit Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Aromanya yang khas seperti mencampur dedaunan taman dan mengaduknya dengan angin musim hujan. Kau dapat merasakan itu, dan aku yakin benar tentang itu. Lalu suhu merendahkan dirinya perlahan-lahan dan menebarkan dingin yang memeluk mesra kulitmu, serta menegakkan bulu tengkukmu atau bulu hidungmu yang sedang menghirup wangi cuaca yang berubah. Aku hanyut dalam pertanyaan tadi.

            Belum tuntas aku merenung—barangkali melamun—aku dikejutkan oleh kehadiran Jelita. Sosoknya mengubah suasana. Transisi cuaca seakan enggan mempercepat prosesnya, seolah menunggu.

            “Bu Laras nyariin kamu tuh,” katanya.

            “Oh, apa kata beliau, Ta?”

            Ia mengangkat kedua bahunya. Wajahnya datar. Lalu ia menengadah ke langit, matanya menembus sela-sela daun di atas pohon-pohon yang menjulang tinggi. “Nggak lama lagi hujan.”

            Aku melontarkan pertanyaan, “Sudah makan siang?”

            Gelengan kepalanya membawa kami menuju kantin di belakang kampus.

*

            Jelita tidaklah cantik, wajahnya bulat—persis bulat sempurna. Rambutnya selalu diikat ekor kuda dengan karet gelang warna kuning bekas nasi bungkus. Kulit wajahnya cokelat langsat, namun tanpa setitik pun jerawat dan komedo atau pun tahi lalat. Jarak antara kedipan-kedipan matanya dalam jangka waktu yang lama, barangkali ingin menunjukkan mata indah itu, persis embun. Mata itu satu-satunya hal yang estetis didirinya, entah karena bulu mata yang lentik itu, atau karena sesuatu di dalamnya. Kau akan terkesima oleh hidungnya yang pesek, kuping kirinya yang lebih besar dibanding yang kanan, dan ukuran XL dari setiap baju-bajunya. Biar bagaimana pun rupa Jelita secara objektif, faktanya ia tetap Jelita bagiku.

            Hujan turun beberapa detik sebelum aku memulai percakapan. “Saya baru saja ingin ke ruangannya Bu Laras.”

            “Oh ya?” sahutnya. “Sms dulu dong, jadi bisa bareng. Kalo kayak gini kan, aku duluan yang konsultasi. Nggak barengan”

            “Maaf, saya lupa, Ta.”

            “Hm, kebiasaan!” Begitulah ciri khasnya, selalu melontarkan sebutir kata ‘kebiasaan’ jika aku melakukan kesalahan. Jelita benar, aku selalu tak bisa mengubah ‘kebiasaan’, meski aku berusaha sekuat tenaga. Jelita akan mengatakan itu dengan tegas—kau pasti akan mengatakan dia galak—seandainya aku malas membuka laptop dan menulis skripsi. Jangankan untuk alasan: aku sedang mengerjakan sesuatu, seperti menyapu lantai rumah atau membeli kecap di warung sebelah, sekadar bilang ‘capek’ saja, kau akan segera menutup telinga dengan kedua jempol tanganmu.

            “Saya baru selesai ngeprin revisi Bab 4 tadi pagi. Mau lihat?” tawarku. Tak sampai menunggu ia menjawab, kutaruh lembaran revisi proposal itu dihadapannya. “Coba kamu cek, Ta. Siapa tahu saya ada salah ketik atau....”

            “.....Biar Bu Laras aja yang ngecek,” tukasnya memotong sembari menyedot jus apel lewat sedotan dari gelas yang nampak tercekik digenggaman jemari Jelita. “Aku cuma mau tau, kamu ngerjain skripsi apa nggak.”

            Aku menunjukkan ekspresi heran. Apakah aku harus membiarkannya berucap-ucap seperti itu seolah-olah aku ini karakter di video game yang bisa dengan mudahnya mengikuti apa maunya si pemain game. Pernah suatu kali Jelita membual, katanya aku dipanggil oleh Bu Laras karena beliau tersinggung entah bagaimana, tapi jelas, karena aku. Secara tergesa-gesa aku mengumpulkan segenap nyawa yang melayang akibat tidur sore, lantas mengguyur tubuh dan lupa memakai sabun, mengenakan kembali kemeja kusut bau, menyemprotkan deodoran sampai kena hidung, aku kelimpungan, dan pada akhirnya bimbang, hujan tak mau berkompromi pada saat itu.

            Meskipun lembaran-lembaran proposal itu sedikit lembab kena rembesan hujan di dalam tas, dan aku bagaikan kucing linglung setelah diguyur air sebab mencuri seekor nila panggang. Aku berdoa agar dipermudah. Aku menghirup udara dalam-dalam, lantas mengeluarkannya kuat-kuat dan mengetuk pintu. Tiga kali ketukan cukup. Kudengarkan dengan saksama apakah ada reaksi dari dalam, seperti bunyi seseorang berdiri dari kursi atau buku-buku yang diletakan di atas meja yang terbuat dari kayu jati super. Yang ada hanyalah hening. Kilau jingga nan muram terbayang di jendela-jendela barat gedung ini. Yang ada hanyalah kosong. Aku memakan bualan itu mentah-mentah.

            Sakitnya di sini, kataku setengah marah. Jelita hanya menunjukkan ekspresi bagaikan politikus, yang terkena kasus, lalu berbicara seenak akal bulus. Jelita menjelaskan bak motivator yang biasa muncul di minggu malam. Aku merasa dihipnotis. Aku jadi memahami apa maksud dibalik tindakannya. Ia menginginkan aku lebih disiplin dan selalu siap. Aku menurut. Aku bertekuk lutut.

*

            Kembali lagi kami saling tatap. Mata embun itu menyimpan sesuatu. Sejenis keinginan atau harapan besar. Apa yang ditatap mata embun itu adalah apa yang diinginkan hatinya. Seandainya hatinya menginginkan suatu hal, matanya akan menatap sesuatu itu. Kali ini mata embun itu menatap mataku. Tidak, bukan mataku, apakah hatiku? Apakah ia menginginkan hatiku?

            Saat aku memikirkan kemungkinan itu, Jelita berubah. Wajahnya menjadi tirus, hidungnya mancung, telinganya mengecil menyesuaikan wajahnya, dan tubuhnya sedikit demi sedikit menghilangkan gumpalan-gumpalan lemak di bawah kulitnya yang juga memutih. Dadanya pun sedikit membesar. Pakaiannya menjadi nampak kebesaran. Aku tak tahu apakah ia menjadi amat cantik?

            Kedua bahunya menonjolkan sesuatu. Terus membesar. Aku terpana. Dari kedua benjolan besar—yang merobek bajunya itu—keluarlah bulu-bulu berwarna kebiru-biruan. Setelah lebih banyak, aku menyadari bahwa itu lebih mirip sayap. Terus membesar dan lebih banyak lagi. Saat ukurannya hampir setinggi tubuhnya, sayap itu berhenti mengembang. Sayap biru itu bergetar-getar dan bulu-bulu diujungnya tertiup angin dingin.

            Jelita adalah kupu-kupu.
---------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar