Sabtu, 10 Januari 2015

Balikpapan: Kota Minyak atau Kota Cinta? (1)

Benar kata orang, tepatnya kata para penulis-penulis, bahwa saat sedang merasakan tak mampu menulis apa-apa sebaiknya berhenti dan lakukan kegiatan lain. Bisa jalan-jalan, memasak, mengerjakan hobi lain, dan sebagainya. Setelah menjauhi aktifitas menulis, ternyata itu bisa membuat orang menjadi semangat kembali menulis. Ada banyak inspirasi yang datang. Saya sendiri saat memutuskan untuk berlibur--meskipun skripsi masih belum kelar--ada niat tersembunyi, yaitu ingin mencari suasana baru. Mencari sesuatu yang tidak didapat saat terus-menerus untuk menulis. Saya tahu bahwa diri saya masih belum banyak menghasilkan karya, tapi berlibur perlu. Dan pada akhirnya, semuanya terbukti. Inspirasi itu datang dari berbagai sudut, tinggal bagaimana menangkapnya dan memaksanya untuk menjadi sebuah karya.

Balikpapan. Kali ini kesempatan kedua saya mengunjungi kota minyak itu. Ada perasaan semacam api yang menyala dalam tubuh ini. Api semangat setelah sekian lama kekurangan piknik dan tak pernah keluar kota. Tentu saja kota itu menyimpan hal yang spesial. Aku menyebutnya kota cinta. Loh bukannya Banjarmasin menjadi kota cinta antara saya dan dia? Benar, tapi di sini masih menjadi kota benih cinta. Di Balikpapan lah cinta saja teruji, atau barangkali pembuktian cinta antar manusia. Entahlah, tapi saya tetap menyebut kota itu adalah kota Cinta.



Satu tahun yang lalu, saya pertama kali juga mengunjungi kota itu. Dia meminta saya untuk ke kotanya seusai dua bulan berpisah jarak dengannya. Seperti kisah percintaan, bukan? Ya mau bagaimana lagi, begitulah cinta. Berbekal niat untuk bertemu dan niat untuk berlibur setelah Final Test, saya memesan tiket Lion Air-pp dan mendapatkan tiket promo pada malam minggu (harusnya sabtu siang, tapi saya terlambat mengklik pemesanan tiket di website Lion Air). Saya tidak tahu bagaimana ekspresi wajahnya ketika mengetahui saya akan berkunjung ke sana, tapi yang jelas dia senang, katanya. Bagi saya, dua hari cukup untuk berlibur di sana. Seingat saya, harga tiketnya adalah Rp 800.000-an. Maka, setelah berputar-putar mencari tempat penitipan sepeda motor di sekitar bandara Syamsuddin Noor--akhirnya dapat tempat penitipan yang baik--saya merasakan aroma liburan. Tak ada lagi hal-hal membosankan di Banjarmasin. Tak ada lagi kesendirian di kota ini. Karena saya akan bertemu dengannya. Otak saya seperti direstart ulang dan memorinya dibersihkan.

Gerimis mengawali saya memasuki badan "Singa" itu. Dingin mengecup tipis tengkuk. Gelap mewarnai langit sesaat senja berakhir. Lampu-lampu kecil berpendar di kejauhan, dari kendaraan, rumah, dan gedung-gedung. Lantas muncul perasaan melow yang entah datang dari mana, atau bisa jadi itu perasaan romantis yang sedang kurasa. Seolah-olah diri saya berada dalam sebuah skenario video klip-nya Michael Buble yang berjudul Home.


(bersambung....)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar