Senin, 16 Februari 2015

Balikpapan: Dalam Penerbangan (2)

Aku lupa di nomor kursi berapa aku duduk, hanya yang kuingat bahwa aku duduk di sebelah kanan tepat di samping kaca jendela yang hampir tak terlihat apa-apa di luar. Ini karena pesawat menghadap gedung bandara, sementara di arah kanan adalah landasan pacu dengan ujungnya adalah area pepohonan gelap yang dihuni entah-makhluk-apa. Aku melirik jam tangan, saat ini pukul 19.15. Sesaat setelah kuganti mode hape menjadi mode penerbangan, seorang pria muda berpenampilan rapi menduduki kursi di sebelahku. Wajahnya tak acuh dan tampak sudah terlalu sering menumpang pesawat ini. Kulihat ia memasang headset dan menyetel musik melalui menu shuffle, lalu merilekskan bahunya dan terpejam. Di seberang sana, ada sepasang suami-istri atau terduga suami-istri (si prianya menggendong balita). Lantas aKu jadi teringat penerbanganku dari Pangkalan Bun ke Banjarmasin beberapa waktu lalu. Saat itu di dalam pesawat Trigana jenis ATR-72, di seberang kanan ada sepasang kekasih (atau suami-istri) bule sekitar umur 20-30an, yang kukira mereka berasal dari Perancis atau Kanada, dan tentu saja bukan dari Israel. Bukan masalah bahwa mereka bule-bule yang memiliki badan tinggi dan wajah angkuh atau berpakaian minim. Mereka berdua berbeda dari bule yang mengisi kursi di depan, yang dengan konyolnya tertawa-tawa bersenda gurau, seolah-olah memasuki wahana disney land. Yang membuatku terkesan adalah pasangan tersebut saling menggenggam tangan sejak detik pertama mereka duduk di kursi. Saling menatap kedua mata. Dan berbicara seakan-akan, "Kekasih, apapun yang terjadi dipenerbangan ini, aku akan tetap berada di sampingmu, menggenggam jemari tanganmu, menatap lembut kedua bola matamu, dan mengecup bibirmu..." (Ah, salah fokus). Aku jadi iri, dan hanya bisa memetik sebuah makna kecil bahwa berada di dekat orang terkasih akan membuatmu merasa tenang.


Kembali ke situasi aku di pesawat Lion. Beberapa saat kemudian, pesawat lepas landas. Jujur saja, aku takut ketinggian. Tapi aku punya cara jitu mengatasinya. Setiap aku takut akan sesuatu, aku akan membayangkan kalau semua akan baik-baik saja, lalu mensugesti diri dengan asumsi ketakutan itu tak ada, yang ada hanya everything's gonna be OK. Ya, benar saja, saat lampu dinyalakan dan tanda bahwa pesawat telah berada di ketinggian yang tepat, tak ada yang patut dikhawatirkan. Aku langsung mengkhayalkan sesaat lagi aku berada di kotanya. Kuntum bunga-bunga bermekaran di dada.

Tak ada satu pun manusia biasa memahami detik berikut dalam kehidupan. Memasuki awan yang bercuaca buruk terkadang agak mengerikan. Aku ingat bagaimana di seberang sana sang istri melemparkan raut wajah pertanda khawatir kepada suaminya, sementara si suami hanya tersenyum-senyum seolah ingin mengatakan, "Apa boleh buat, aku tak bisa melakukan apa-apa." Pria muda di sampingku masih memejamkan mata. Entah apakah John Lennon sedang bersenandung di kedua kupingnya. Dan aku hanya bisa berdoa, semoga hujan di luar sekadar hendak bercanda padaku.

Beberapa menit sebelum mendarat. Lampu dipadamkan dan terlihatlah panorama indah titik-titk cahaya di bawah. Sungai yang membelah antara Balikpapan dan Penajam. Entah mengapa, aku berpikir, aku lebih suka pesawat yang terbang di atas daratan di banding di atas perairan.

Roda-roda pesawat yang menyentuh landasan adalah momen indah dalam penerbangan. Dan begitu pun dengan kegembiraan ini yang sesaat lagi akan tiba.

(bersambung...)

2 komentar: