Senin, 13 April 2015

Jati Diri dan Citra dalam Roman Burung-Burung Manyar

Saya baru saja menamatkan sebuah roman legendaris karya seorang termasyhur di Indonesia, Romo Mangun atau dikenal sebagai Y.B. Mangunwijaya. Terus terang ini pertama kali saya membaca karya beliau, terutama karya sastra yang pertama kali ditulis lebih tiga dekade silam, yaitu Burung-Burung Manyar. Roman ini, sebelum saya baca, saya mengira isinya hanyalah perjuangan tokoh utama dalam era perang. Hal ini karena saya mengetahuinya dari sekilas-sekilas info yang berseliweran di ranah maya.  Tetapi saya salah sangka, bahkan melebihi ekspektasi saya.

Saya tahu bahwa beliau adalah seorang pastur yang juga seorang arsitektur, begitu kata artikel-artikel yang pernah saya baca. Nah, berangkat dari persepsi itu, saya mengira isi dari Roman Burung-Burung Manyar malah akan banyak disisipi oleh ajaran-ajaran teologi khas pendeta. Tetapi saya salah. Romo menulis roman ini dengan kesadaran manusiawi yang dalam. Melewati batas-batas agama. Siapa saja yang telah membaca karya ini pasti akan terpukau. Tidak berlebih memang roman ini banyak mendapat tanggapan positif dari kritikus dan juga meraih berbagai penghargaan.


Saya akui bahwa saya terlambat mengenal karya hebat ini. Saya yakin banyak di luar sana yang sudah banyak mengulas dan membicarakan karya ini dengan detil. Namun, sebagai manusia juga sekaligus penikmat karya-karya sastra, izinkanlah saya sedikit menuliskan kesan dan hikmah-hikmah yang saya tangkap dengan indera saya, yang barangkali tak begitu peka dibanding ahli lain.
Sejak awal membaca saya terkesan dengan sosok Aku dari roman ini. Aku yang memiliki nama Setadewa alias Teto ini sudah menghentak imanjinasi saya di awal-awal bab. Karakter dirinya yang khas, seperti jujur, emosional, berani, dan berjiwa pantang menyerah ini seolah membakar semangat pembaca untuk terus-menerus membaca. Sosok-sosok, Ayahnya dan Ibunya, yang dipanggilnya Papi-Mami, digambarkan dengan objektivitas sekaligus terdapat nuansa penilaian kebanggaan anak kepada orangtuanya. Papinya bernama Brajabasuki—perwira tentara KNIL Belanda—digambarkan dengan lucu namun gagah, dan memiliki semangat perwira. Memang nasib tragis menghampiri papinya ketika Jepang datang menginvasi Hindia Belanda. Maminya, Marice, pun juga menjadi sasaran keberingasan nafsu tentara Dai Nippon. Teto akhirnya membenci segala hal mengenai Jepang, bahkan orang-orang seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Haji Agus Salim, dan lain-lain yang berjuang merebut kemerdekaan pasca kekalahan Jepang oleh sekutu. Teto ingin membalas dendam orangtuanya. Tetapi sayangnya ia keliru. Kekeliruan itu karena dendam membara yang diluapkan dengan emosi, sehingga siapa saja di luar kerajaan Belanda dan pemerintahan Hindia Belanda adalah musuh. Ia seakan mengeneralisir konsep Jepang dan Republik Indonesia. Padahal ia nantinya tersadar bahwa perbuatan itu malah akan menghancurkan dirinya. Saya terkesan akan keberanian Teto ini, tetap tentu saja tak mengharap ia membalas dendam secara buta, pun sombong.

Atik, tokoh paling membuat Teto merasa tergantung untuk hidup. Sayang, Atik atau Larasati mendukung Republik Indonesia. Ia bekerja sebagai sekretaris Syahrir di masa kemerdekaan. Atik adalah cinta terdalam dari Teto. Atik membuat Teto merasa bersalah karena, satu-satunya pegangan hidupnya, yakni Atik, kini mesti berlawanan dengannya. Ah, bagaimana rasanya seseorang yang berarti bagi kita harus pula dianggap musuh?

Pada akhirnya, Belanda kalah. Teto sebagai tentara KNIL, terpaksa harus luntang-lantung. Karena menurutnya, sebagai tentara yang kalah, bagaikan bola karet yang bocor dan tergeletak begitu saja di sudut halaman rumah, tak terganggu tak mengganggu. Tapi tentu saja mengganggu. Teto akhirnya memilih menjadi warga negara Belanda. Sementara Atik, nasibnya harus terombang-ambing setelah kematian Ayahnya, ditembak pesawat pemburu Belanda. Atik akhirnya hidup dengan Ibunya. Atik masih mengharapkan Teto kembali, tetapi Teto tak jua kunjung mendatangi Atik. Perihal ini, Atik dan Teto sama-sama saling mencintai, tetapi sayangnya, Teto tak mau tunduk pada perasaannya. Teto merasa kalah dari Atik. Teto malu berhadapan dengan Atik.

Teto pergi ke Belanda, Atik terpaksa hidup dengan penuh ketidakpastian mengharap Teto. Akhirnya delapan belas tahun berlalu. Atik terpaksa harus menikah, karena harus. Teto pun juga menikah, tapi menurutnya, dirinya menikahi anak direktur perusahaan minyak yang mengeksplorasi minyak di Indonesia, bertujuan untuk meraih jabatan tinggi sebagai Manajer Produksi, juga mengepalai Divisi Komputer. Ya, Teto kini adalah lulusan Harvard University. Sedangkan Atik, sebagai lulusan Universitas di Jakarta dengan gelar Doktor Maxima Cum Laude, memiliki suami yang pengertian dan seperti Ayah sendiri. Atik bertahun-tahun mendamba Teto, dan suaminya memahami. Tetapi toh akhirnya segalanya terlambat, sejak Teto kembali. Petemuan antara Teto dan Atik adalah adegan paling Saya suka di roman ini. Romo Mangun sangat jitu menulis secara brilian adegan tiap adegan di roman ini.

Akhir kisah Teto dan Atik, tentulah harus banyak dibaca oleh masyarakat Indonesia. Selain romo hendak melukiskan pengetahuannya terhadap sejarah Indonesia yang banyak dipotong-potong dan dibuat-buat sehingga sejarah menjadi seakan-akan disembunyikan, romo hendak menyampaikan bahwa manusia-manusia yang terlibat secara fisik dan batin dalam perang jelas sangat berbeda daripada manusia yang tak terlibat perang. Ada kegetiran di situ. Ada nuansa ketidakberdayaan. Tapi tetap saja kaya dengan hikmah dan makna kehidupan.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar