Rabu, 27 Mei 2015

BEFORE WE GO (PART-5)

Lanjutan Cerita dari Alvina Ayuningtyas @alvina13 di blog orybun.blogspot.com

            “Ngomong-ngomong, kamu ada acara apa di sini?” tanyaku kepada Agung yang masih saja menatap lekat mataku. Andra tak pernah melakukan seperti itu. Tapi aku tahu, dua lelaki tak bisa begitu saja dibandingkan.

            “Kebetulan ada meeting dengan CEO perusahaan kami. Dua hari. Aku ingat kamu saat menjejak kaki di kota ini kemarin. Tapi nggak tahu gimana cara menghubungi kamu, Ka.”

            Bunga-bunga bermekaran di dalam perutku. Aku merasakan perhatian khusus dari seseorang. Ingatan masa silam berkelebatan. “Oh, ya? Bukannya tinggal kirim pesan singkat? Nomorku masih sama, kok.”

            “Sorry, udah kehapus.” Agung tersenyum lebar lalu buru-buru melanjutkan, “Tapi untungnya kita ketemu di sini.”

            Seorang pramusaji wanita datang membawa nampan berisi Lemon Tea dan beberapa kue Wafer Cokelat. Ia menyajikan dengan cekatan dan senyum yang tertata. Kulirik Agung masih tetap memerhatikanku.

            Pramusaji menanyakan kepada Agung apakah hendak memesan sesuatu seraya menyodorkan daftar menu. Agung dengan cepat menjawab bahwa ia menginginkan segelas Lemon Tea yang sama sepertiku. “Dan kue Wafer Cokelat, mas?” Agung mengangguk.

            “Kadang perlu juga memesan menu yang sama kalau sedang bersama seseorang yang spesial,” kata Agung. Jemarinya meraih tisu di sudut meja dan menyerahkannya kepadaku. Aku menyadari lelehan air mata sedikit membekas di sudut mata. Kuraih tisu itu dan mengusap lembut mataku.

            “Agung, boleh aku tanya sesuatu?”

            “Of course. Tapi jangan tanya gajiku berapa, ya.”

            Aku tersenyum dan ia membalas senyumku. “Apakah lelaki boleh menyembunyikan sesuatu dari calon pendampingnya?”

            “Maksudnya, calon suamimu?” tanyanya, tak tampak keterkejutan dari wajahnya. Seolah sudah mengetahui bahwa aku sedang dalam masa persiapan pernikahan.

            Aku mengangguk.

            “Begini, yang kutahu lelaki baik tak pernah mengumbar janji kepada pasangannya. Tapi tindakannya melebihi janji. Mungkin aja calon suamimu nggak bermaksud seperti yang kamu duga.”

            “Kayak kamu. Pergi ke Riau setelah kita lulus. Dan akhirnya menghilang tanpa bisa kulacak keberadaan kamu.”

            Agung tertawa seolah-olah perbuatannya hanya permainan kecil yang tak perlu diseriusi. Apakah Agung melakukan seperti yang dilakukan Andra? Apakah semua lelaki seperti itu?


            Tiba-tiba seseorang berdiri jauh di area pandangan mataku tepat di dekat pintu masuk. Aku tak bisa berkata-kata.....

Simak kelanjutan ceritanya di blog antsomenia.blogspot.com oleh Andra Titano Busra @Antsomenia